Welcome to My Site ^o^

Senin, 27 Februari 2012

tarif BB indosat gsm vs smartfren cdma

Ini tarif internet umum untuk internet indosat secara umum:
Untuk BIS (Blackberry Internet Service), ini dari indosat:


Bagaimana dengan operator CDMA, smartfren, yang sekarang sedang naik daun?
Ini tarif internet umum:

Dan ini tarif BIS:
Anda mau pilih yang mana? :)

Minggu, 12 Februari 2012

kretek dan iman?


Abhisam DM, Ketua Komunitas Kretek Indonesia, dalam artikel Mencintai Kretek Sebagian dari Iman menyatakan demikian "...kretek itu tidak ada di AS, tidak ada di Eropa, atau negeri-negeri lain. Hanya ada di sini, khas Indonesia." (Mark Hanusz, penulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes). Rokok umumnya berbahan baku utama tembakau. Tulisan ini juga yang kemudian, setelah membeberkan sekian banyak fakta, menawarkan ide supaya mencintai kretek “difatwakan” menjadi sebagian dari iman, untuk mengobarkan semangat jihad mempertahankan kemandirian bangsa dari rongrongan asing. (http://www.jangkar.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=511)
Ada juga tulisan yang membandingkan kasus rokok, dengan kasus kelapa sawit "Periode 1980an adalah kejatuhan minyak kelapa Indonesia yang sempat jaya di pasar internasional. Minyak sawit lalu masuk menggantikan. Penetrasi serupa gagal dilakukan oleh produsen minyak nabati lain dari Eropa dan Amerika. Kalah dalam persaingan, isu kesehatan diusung." (http://anginkemarin.multiply.com/journal?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal)
Tulisan-tulisan yang sempat membuat galau para pembaca, termasuk saya, yang notabene sedang berperang melawan asap rokok yang tidak kita hirup sendiri (baca: secondhand smoker) dan dihadapkan pada video besutan Vanguard yang nyata-nyata miris: http://www.youtube.com/watch?v=DiyWK3fzTpA

Dalam kegalauan ini, saya mencoba melihat sisi dan celah yang mungkin bisa kita pakai untuk mengambil sikap di tengah himpitan berbagai kepentingan dari para pembesar, sehingga pelanduk di tengah-tengah, seperti kita, tidak mati kebingungan. 

  1. Bolehlah, bila kita sebagai rakyat, bersikap nasionalis dan bela bangsa, tapi harus kita lihat apakah dengan merokok, khususnya rokok kretek, kita bisa menyelamatkan bangsa kita? Atau justru menjerumuskan bangsa kita dalam derita asuransi & biaya kesehatan yang tinggi sebagai akibat dari rokok. Mungkin Anda berpikir, apa salahnya dengan "jihad" yang saya lakukan? Tak masalah, bagi saya, selama "jihad" itu tak memaksa orang lain untuk ikut menanggung kerugian akibat "jihad" tersebut. Jika demikian, apa bedanya Anda dengan pelaku bom bunuh diri yang mengaku "jihad" juga tapi memaksa orang lain untuk mati bersamanya?
  2. Tembakau tak hanya ditanam dan menjadi hasil panen besar dari Indonesia. Lihat link: http://www.fotosearch.com/photos-images/tobacco-field.html. Jelas tampak bahwa ladang-ladang tembakau juga ada di Canada, America, Cuba, Spanyol, bahkan benua Eropa. Berikut daftar penghasil daun tembakau berdasarkan data 2005:         Top Tobacco Leaf Producing Nations (2005)
    1. China ... 2.64 million tonnes (39.6% of world total 6.7 million tonnes)
    2. India ... 0.64 million tonnes (9.6%)
    3. Brazil ... 0.55 million tonnes (8.3%)
    4. United States ...0.47 million tonnes (7%)
    5. European Union ... 0.31 million tonnes (4.6%)
    6. Turkey ... 0.23 million tonnes (3.5%)
    7. Zimbabwe ... 0.22 million tonnes (3.3%)
    8. Indonesia ... 0.14 million tonnes (2.2%)
    9. Malawi ... 0.12 million tonnes (1.8%)
    10. Russia ... 0.09 million tonnes (1.4%)
    Top Ten Tobacco Countries: China, India & Brazil Among Top Tobacco Nations | Suite101.com http://daniel-workman.suite101.com/top-ten-tobacco-countries-a8450#ixzz1m9Wo5k00
  3. Demikian pula dengan cengkeh - yang membedakan rokok kretek dengan rokok lain-, yang tak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di Madagascar, Zanzibar, India, Brazil, dan negara-negara lain (http://www.mccormick.com/Spices101/SpiceFieldReports/Cloves.aspx). Jadi, penyerangan terhadap rokok, di balik dalih perang bisnis, tentu juga akan berakibat buruk bukan hanya bagi Indonesia. 
  4. Kalau pun kita mau mengatakan bahwa sebagian besar tenaga kerja terserap dalam industri rokok: dari petani, pekerja pabrik, hingga tenaga-tenaga profesionalnya, bukankah kita juga masih bisa tetap mengusahakan produk selain rokok dari bahan baku tembakau dan cengkeh, sehingga banyak tenaga tersebut juga masih bisa tetap berkarya? some 77% of India's total tobacco output is used to make non-cigarette products such as tobacco pastes, chewing tobacco, dipping tobacco, snuff, snus, tobacco pasta (sometimes recommended as a treatment for wasphornetfire antscorpion, and bee stings), tobacco water (a traditional organic insecticide used in domestic gardening).  (http://en.wikipedia.org/wiki/Tobacco_products
  5. How about cloves? Sama saja. Justru kita sebagai penghasil cengkeh terbesar di dunia seharusnya gembira karena lebih banyak produk selain rokok kretek, yang bisa dihasilkan dari cengkeh."People use the oils, dried flower buds, leaves, and stems to make medicine.

    Clove is used for upset stomach and as an expectorant. Expectorants make it easier to cough up phlegm. Clove oil is used for diarrhea, hernia, and bad breath. Clove and clove oil are used for intestinal gas, nausea, and vomiting.

    Clove is applied directly to the gums (used topically) for toothache, for pain control during dental work, and for a complication of tooth extraction called “dry socket.” It is also applied to the skin as a counterirritant for pain and for mouth and throat inflammation. In combination with other ingredients, clove is also applied to the skin as part of a multi-ingredient product used to keep men from reaching orgasm too early (premature ejaculation).

    In foods and beverages, clove is used as a flavoring.

    In manufacturing, clove is used in toothpaste, soaps, cosmetics, perfumes, and cigarettes." (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/natural/251.html). Rokok disebut terakhir, karena toh, tanpa rokok kretek pun, cengkeh sudah bisa dimanfaatkan untuk banyak kebutuhan.
     
See? 


Jadi, untuk apa kita mengutuki usaha pengurangan rokok jika tanpa rokok pun kita bisa hidup, malah hidup dengan lebih sehat dan produktif? Intinya adalah buka hati, buka pikiran untuk suatu perubahan yang lebih baik dan tidak merugikan pihak lain. 

Jumat, 27 Januari 2012

As a Secondhand Smoker, I Write This


Libur imlek kemarin, 22 Januari 2012 sore hingga 2 Januari 2012 sore, moment yang tepat bagiku untuk menikmati  masa kini -yang telah lama kulupakan- dan sejenak kembali naik angkot umum. Pengalaman menikmati kekinian ternyata terhalang juga oleh suasana tak nyaman dalam angkot umum di mana asap rokok dihalalkan berlalu lalang di sana. Aku tak begitu mengerti apa yang dipikirkan oleh para penumpang lain yang juga tak merokok di dalam angkot ini; bisa pasrah pada keadaan terpapar rokok, bisa juga karena sudah jengah melakukan beberapa kali perlawanan yang tak menghasilkan, atau turut menikmati paparan asap tersebut; yang pasti, hanya aku seorang yang menyatakan keberatanku secara verbal kepada yang bersangkutan –tidak lagi dengan kata-kata lamaku, “Tolong matikan, saya gak tahan asap rokok”, tapi sudah jauh lebih halus, “Tolong jendelanya dibuka semua, ada yang ngerokok”. Tanggapannya tentu heran dan dongkol dari sang pelaku; heran karena ada yang keberatan dan dongkol karena keberatan itu terucap eksplisit di depan banyak penumpang lain. Toh, sampai akhir ujung batang rokok, sang pelaku tak mematikan karena keberatanku, tapi karena sudah sampai di ujung. Pada perjalanan pulang pun, kejadiannya sama.

Pada satu dari sekian kali ganti angkot, kudapati pengalaman yang mungkin sebenarnya biasa ini, tapi bagiku cukup luar biasa: Seorang bapak setengah baya, kelihatannya baru pulang dari kerjanya sebagai tukang bangunan, sebelum masuk ke angkot di perempatan tempat angkot ini berhenti, buru-buru mematikan lalu membuang batang rokoknya yang masih panjang. What a nice attitude!

Dibandingkan dengan dua orang pendahulunya, maksudnya perokok-perokok yang kutegur sebelumnya, umurnya mungkin sudah dua kali lipat juga; dari segi pendidikan menurut tebakanku, juga lebih rendah bapak ini. Lalu apa yang membuat bapak ini mau dan rela mematikan lalu membuang rokoknya sebelum masuk angkot?


Banyak orang merokok dengan banyak motivasi juga: ikut-ikutan teman, demi diterima dalam pergaulan, membunuh sepi, mencari inspirasi, gengsi, untuk kesenangan semata, dan sebagainya. Pernah aku lakukan polling di sebuah media social network tentang hal ini, hasilnya sampai 4 aug 2011:
  • kebosanan: 10 org,
  • inspirasi: 7 org,
  • ikut mensejaterakan rakyat indonesia: 3 org,
  • menjaga suhu tubuh tetap hangat: 2,
  • kepengin bibir item: 2,
  • mengantuk saat menyetir: 2,
  • style/life style: 3,
  • mengurangi resiko kegemukan: 1,
  • menjaga ketrampilan jari: 1,
  • pengin suara serak: 1,
  • iseng: 1,
  • curhat pd diri sendiri: 1,
  • lapar: 1,
  • nggak ada teman: 1,
  • membuktikan bahwa rokok adalah pembunuh: 1

Dengan berbagai alasan, mereka telah memilih menjadi perokok aktif atau firsthand smoker. Mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang sempat memikirkan resiko yang akan mereka tanggung di kemudian hari karena pilihan itu, namun aku yakin, hanya 1 dari 100 yang sempat memikirkan dampaknya bagi perokok pasif atau secondhand smoker. Terbukti, rambu-rambu larangan merokok hanya berfungsi sebagai hiasan, kecuali di tempat yang diawasi dengan ketat; di tempat-tempat umum, angkutan umum, rokok juga tetap menyala; menyalakan rokok tanpa memperhatikan sekitar, kalaupun ada yang keberatan, reaksi mereka bermacam-macam, mulai yang dengan malu kemudian mematikan, mematikan dengan terpaksa, tetap merokok tanpa mempedulikan keberatan, sampai yang mengintimidasi orang yang menyatakan keberatan (yang ini yang paling sering aku alami dan sempat ku tulis dalam 2 ceritaku di blog ini: Cerita 1 & Cerita 2). See?


Bagiku, merokok itu hak, selama hak itu dijalankan tanpa menyinggung hak orang lain. Hak untuk menghirup udara bersih yang bebas asap rokok. Merokok di tempat di mana tak ada orang lain, atau di tempat di mana semua orang juga sedang merokok, bagiku fine-fine saja. Merokok di mana ada orang lain yang bukan perokok itu yang menjadi masalah, karena secara logika, hal tersebut sudah melanggar hak orang lain. Jumlah volume udara yang menjadi hak setiap orang memang tak pernah tertulis dalam undang-undang Negara mana pun tentu, tapi pencemaran di mana pun tetap mengganggu. Sempat ada impian arsitektur yang merancang ruangan khusus dengan cerobong untuk tiap orang yang merokok sehingga CO, CO2, ataupun gas-gas beracun lain yang dihasilkan dapat langsung disalurkan ke udara yang jauh dari orang lain. Kalau dalam pikiranku sih, untuk benar-benar adil, setiap orang diberi kapasitas udara dengan akurarium seperti pakaian astronaut, jika ingin merokok, silakan lalukan di situ juga, dan bakarlah hanya udara milikmu.

Ada juga perokok yang menyatakan bahwa mereka tidak merokok di mana ada banyak orang, ok, it’s just fine. Tapi jangan salah, dampak bagi secondhand ternyata tak hanya dibawa oleh asap pada saat orang tersebut melakukan kegiatan merokok. Pada setiap nafas yang dihembuskan, pakaian, dan benda-benda lain yang terpapar asap rokok, juga menjadi media yang pada kemudian hari akan mendatangkan malapetaka, kerusakan fungsi tubuh,  dan kematian yang paling parah. This is the new concept of thirdhand smoke
"Thirdhand smoke exposure is a new concept; it is exposure to many of the toxic agents in smoke that have accumulated (as residue) in clothing, drapes, rugs, furniture, dust, and other items due to secondhand smoke. The toxic agents, deposited in and on items from secondhand smoke, can be absorbed through the skin and mucous membranes of non-smokers, especially by infants and young children. Prevention of secondhand smoke exposure can prevent thirdhand smoke exposure."

Ada juga yang menjadikan alasan secondhand sebagai alasan untuk menjadi firsthand smoker: daripada dibunuh oleh asap rokok orang di sekitar, lebih baik aku ikut merokok. Bagiku, ini bukan jawaban, ini hanya pelarian rasa bersalah, such a coward. Let me show some analogies:
  1. Daripada menjadi warga Negara yang selalu jadi korban korupsi, lebih baik aku ikutan korupsi; atau..
  2. Daripada rumahku dirampok, lebih baik aku jadi perampok; atau..
  3. Daripada jadi pemakai jalan yang taat tapi selalu jadi korban para pelanggar lalu lintas, lebih baik aku ikut melanggar lalu lintas; atau..
  4. Daripada jadi orang baik yang selalu jadi korban orang tak baik, lebih baik aku ikut jadi orang tak baik.

Orang yang berpendirian, tak akan melepaskan idealismenya hanya untuk membebaskan diri sendiri dari kesengsaraan dan kemudian berbalik mendatangkan kesengsaraan bagi orang lain.

Bagiku, hidup adalah pilihan, setiap pilihan diaplikasikan dalam perbuatan, dan setiap perbuatan mengandung resiko, resiko dari perbuatan tersebut harus kita tanggung sendiri. Ngawur di jalan lalu celaka itu resiko, ngawur di jalan lalu mencelakai orang lain itu criminal; merokok lalu sakit sendiri itu resiko, merokok lalu membuat orang lain sakit itu criminal. Don’t make risk others because of your deed, it’s a crime. Be a real man!

Pranala luar:

Selasa, 24 Januari 2012

The Corrs - Would You Be Happier Lyrics

Artist : The Corrs
Lirik Lagu : The Corrs - Would You Be Happier Lyrics



Have you ever wondered where the story ends
And how it all began, I do (I do, I do, I do)
Did you ever dream you were the movie star
With popcorn in your hand, I did (I did, I did, I did)
Do you ever feel you're someone else inside
And no one understands, you are (you are, you are)
And wanna disappear inside a dream
But never wanna wake, wake up

And then you stumble on tomorrow
And trip over today

Would you be happier, if you weren't so un-together?
Would sun shine brighter, if you played a bigger part?
Would you be wonderful, if it wasn't for the weather?
You're gonna be just fine (you're gonna be just fine)

Are you not afraid to tell your story now
But everyone is gone, it's too late! (too late, too late, too late)
Why's everything you've ever said or done
Not the way you planned
mistake!

And so you promised that tomorrow
Be different than today

Would you be happier, if you weren't so un-together?
Would sun shine brighter, if you played a bigger part?
Would you be wonderful, if it wasn't for the weather?
You're gonna be just fine (gonna be just fine)
I think you're gonna be just fine...
You're gonna be just fine (fine)
So don't worry baby (don't worry baby)


You're racing for tomorrow
Not finished with today

Would you be happier, if you weren't so un-together?
Would sun shine brighter, if you played a bigger part?
Would you be wonderful, if it wasn't for the weather?
I think you're gonna be just fine (gonna be just fine)

Would we be happier, if we weren't so un-together?
Would sun shine brighter, if we played a bigger part?
Would we be wonderful, if it wasn't for the weather?
I think we're gonna be just fine (gonna be just fine)
I think you're gonna be just fine


(Don't worry baby)
You're gonna be just fine
(Don't worry honey)
You're gonna be just fine
(Don't worry baby)
You're gonna be just fine

Selasa, 03 Januari 2012

Doa Mengubah Segala Sesuatu

Saat keadaan sek’lilingku
Ada di luar kemampuanku
Kuberdiam diri mencari Mu
Doa mengubah segala sesuatu


Saat kenyataan di depanku
Mengecewakan perasaanku
Kumenutup mata memandangMu
S’bab doa mengubah segala sesuatu

[REFF]
Doa orang benar bila didoakan
Dengan yakin besar kuasanya
Dan tiap doa yang lahir dari iman berkuasa menyelamatkan

S’perti mata air ditanganmu
Mengalir ke manapun kau mau
Tiada yang mustahil di mata Mu
Doa mengubah segala sesuatu



source:


Selasa, 27 Desember 2011

micro - macro

Hari ini berita pelanggaran HAM lagi-lagi muncul. Kali ini kejadian di Pelabuhan Sape, Bima, Lombok. Polisi memberondong rakyat, yang dituding memboikot pelabuhan, dengan senapan laras panjang, bukan dengan arah vertikal sebagaimana layaknya peringatan tetapi demgan arah horizontal. Beberapa terluka, dipukuli, ditendang, dan ditangkap; 2 orang tewas. Kejadiannya 24 Desember 2011, tepat sehari sebelmu Natal. Latar belakangnya karena warga merasa tak pernah diajak negosiasi tentang rencana pendirian tambang emas di daerah yang tak jauh dengan perkampungan warga.

Pihak polisi mengaku telah melakukan negosiasi dengan warga pada 20 Desember 2011 dengan bukti beberapa foto dan video rekaman yang menunjukkan berpuluh Brimob berangkat naik sekitar 3 mobil Brimob dari markas dan turun dari mobil ketika telah sampai di lokasi sambil membawa laras panjang dan perisai anti peluru. Sebenarnya aku sangat heran, untuk apa polisi sebanyak itu dikerahkan dalam sebuah negosiasi, lengkap dengan senjata dan alat pengamannya? Jangan-jangan, benar apa yang disampaikan warga bahwa apa yang dilakukan pada tanggal 20 itu hanya sosialisasi, atau tepatnya, perintah untuk pengosongan area? Sebab, ketika wartawan datang mewawancara bupati yang menurunkan SK pemberian izin tambang emas itu, beliau bersikeras bahwa SK yang sudah turun tak dapat ditarik kbali atau dibatalkan jika tidak melanggar 3 hal. Jadi jelas SK sudah diturunkan dan negosiasi terlambat dilakukan.

Ketakutan warga menjadi traumatis sejak tragedi di Pelabuhan Sape terjadi. Ketakutan akan kehilangan tempat tinggal seperti kejadian yang belakangan marak diberitakan dari Mesuji, maupun Tulang Bawang, dan beberapa daerah lainnya; dan trauma akan tragedi berdarah yang menimpa rekan-rekan mereka maupun warga senasib di belahan Indonesia yang lain.


Inilah masalah micro yang terjadi belakangan ini: pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan oknum, dan perampasan tempat tinggal. Issue yang selalu berusaha dihembuskan adalah pendangkalan dan bias terhadap isu utama. Pendangkalan hanya sebatas pelanggaran HAM atau kekerasan aparat, dan bias ke sebatas masalah sengketa lahan. Orang sibuk mengurus cabang dan ranting masalah sehingga lupa akan masalah utama, memang itulah harapan pihak-pihak tertentu.


Jadi, masalah utamanya apa? Sebenarnya, malu juga mengutarakannya, mengingat bangsa ini sudah merdeka dari penjajahan bangsa lain, dan dengan lantang menyatakannya pada 17 Agustus 1945 silam. Kini, harus diakui, inti dari semua masalah yang terungkap belakangan ini adalah uang, dengan kemasan yang hampir menyerupai penjajahan. Ya, penjualan kekayaan alam bangsa dengan mengorbankan bangsa sendiri. Bagaimana kita harus mengatakannya karena kenyataannya tak jauh berbeda dengan kolonialisme? Atau, secara macro mungkin lebih baik kalau dikatakan bahwa bangsa kita sedang tergerus roda globlisasi dan pasat bebas? Bagiku tak jauh berbeda, toh hasilnya sama: kerugian yang diderita warga.

Tapi, bukankah penjualan atau penyewaan kekayaan alam ke bangsa lain akan mendatangkan devisa, dan devisa juga nantinya berguna bagi rakyat juga. Lalu apa salahnya?

Pertanyaannya akan berujung seperti pada tulisanku yang lalu.


Bagaimana pun, semua aksi solidaritas yng muncul di berbagai wilayah Indonesia, baik oleh mahasiswa maupun oleh masyarakat kebanyakan, sangat menyentuh nurani. Kesetentakan dalam beraksi ini memgingatkan kita pada aksi serupa pada Mei 1998 tentunya, atau aksi pada tahun 1966. Solidaritas dan kemauan untuk kepedulian adalah sebuah modal awal yang sangat potensial untuk sebuah perubahan besar. Dengan sedikit koordinasi dan kesatuan aksi, aku optimis sedikit lagi bangsa ini akan sampai pada titik itu lagi. Aku sungguh berharap. All my salut for you all!


Published with Blogger-droid v2.0.2
Published with Blogger-droid v2.0.2