logika sudah benar-benar terbalik

Bagaimana tidak?

Kali ini dalam perjalan pulang dari mudik, dengan naik kereta kelas ekonomi. Seorang ibu dengan suamnya duduk di depanku. Kebetulan sang suami merokok, tapi ketika kuminta dengan baik, beliau pindah ke ruang terbuka antar gerbong ketika merokok. Beberapa stasiun kemudian, seorang laki-laki duduk di tempat kosong di sampingku. Kubiarkan saja karena kulihat dia tidak merokok, lalu aku pun lelap. Pada pertengahan jalan, aku terbangun, merasa terganggu karena mencium bau rokok yang rasanya dekat. Ternyata, orang di sampingku itu. Jadi, kusampaikan keberatanku atas asap rokoknya yang mengganggu tersebut dan saran untuk melakukan seperti yang dilakukan bapak di depanku tadi. Bukannya minta maaf atau beranjak pergi untuk merokok di ruang antar gerbong, tapi dia malah menantang dengan nada tinggi. Katanya, dia bayar tempat duduk ini, dan kalau aku keberatan, aku yang disuruh pergi. Orang gila ini membuat aku emosi, apa dikira akau tidak bayar tempat ini? Apa dia pikir, dia berhak mengusir aku padahal kalau dirunut, tentu saja dia yang harus pergi karena dia yang datang belakangan. Dan perdebatan selanjutnya tak berguna bagiku karena pada intinya, dia hanya mau memenangkan egoisnya. "Jadi gini ini orang Indonesia, ya? makanya Indonesia ga maju-maju!", demikian kuakhiri perdebatan menyebalkan itu. Kupandang sawah-sawah di luar jendela sambil menutup hdungku rapat-rapat.
Beberapa menit kemudian, seorang berseragam dengan tulisan SECURITY warna dark blue dan label namanya (tak kuperhatikan siapa namanya), datang ke tempat kami. "Ayo mbak ikut saya", katanya. Apa-apaan ini? pikirku. "Di depan masih ada tempat kosong, mbak pindah ke sana saja". "Ndak mau, Pak, saya di sini duluan kok!" balasku, sudah mulai membaca ulah siapa ini. "Di depan masih ada tempat yang ndak ada asap rokok, ayo!", lanjutnya. Siapa yang bisa menjamin? batinku. "Merokok di tempat umum itu kan ndak boleh, Pak. Ada di Peraturan Pemerintah. Apa peraturan pemerintah itu salah?" tukasku. Petugas tak berpendirian itu diam beberapa saat, lalu beranjak pergi. "Mau jadi pahlawan kesiangan", bisik lelaki di sampingku kepada teman-temannya di bangku seberang.

Dan aku semakin tak percaya pada hukum di negeri ini. Tak percaya pada perlindungan hak asasi yang bisa kudapatkan di negeriku sendiri. Dan semakin memandang rendah petugas-petugas tak berpendirian yang bisa disetir kiri-kanan. Mereka dibayar untuk membela yang benar, menegakkan keadilan, menegakkan peraturan. Itu semua teori! Omong kosong! Ini kenyataan yang kualami. Beginilah logika diputarbalikkan. Pendapat umum didewakan sebagai kebenaran mutlak dan petugas pun menggeret orang-orang yang benar ke sel tahanan dan pengasingan. Negeriku yang malang...

Dan hukum yang berkuasa di negeri dengan logika terbalik ini hanya satu: HUKUM RIMBA! Siapa kuat, dia menang! Siapa berkuasa, dia menang; siapa mayoritas, dia menang.

written @ Surabaya, December 8th, 2010 (00.43 a.m.)

Comments