i ask for mine!

Weekend kali ini, setelah lama tidak pulang kampung, aku mudik. Jadwal kereta api ekonomi yang kupikir setengah baru berangkat ternyata salah. Kereta itu sudah berangkat sejak pukul 3 sore tadi. Terpaksalah, aku naik bus, yang selalu menjadi pilhan terakhirlu dalam setiap perjalanan. Alasannya bermacam-macam, selain panas dan bau solar yang kental tentu saja.

Benarlah apa yang aku tak suka dari bus ekonomi ini. Banyak penumpang yang merokok, tapi selama tidak lansung dekat dengan tempatku duduk, aku toh tak bisa menegur karena alasanku kurang kuat.

Dan saat yang ditunggu itu pun tiba. Di depan sebuah SPBU antara Lumajang - Jember, bus berhenti untuk mencari tumpangan oper penumpang yang akan ke banyuwangi. Seorang penumpang yang duduk tepat di belakangku menyalakan rokoknya. Kontan, aku melirik bengis. Rupanya dia sudah tau arti lirikanku, dan sebenarya juga tau kesalahannya menyalakan rokok di bagian dalam tempat duduk (bukan di jalan tengah antara kursi deret kiri dan kanan), namun dasar 'ndableg', dia pura-pura tidak mengerti arti lirikan tajamku lalu mulai 'rasan-rasan' dengan 2 teman di sisi kirinya. Aku makin marah. Laki-laki apa bertingkah macam itu? Gak kesatria banget! Kupalingkan mukaku, kali ini langsung berhadapan dengannya. Kutatap tajam, lalu kuucapkan secara eksplisit, "Tolong kalau ngerokok jangan di sini, dong, di sana lho!" Berlagak tak tau dan tak dengar, dia rasan-rasan lagi dengan teman di kirinya, "Omong opo?" "Embuh, aku yo gak krungu", sahut temannya. Oke, dikira aku takut? Kuperkeras suaraku, "Tolong kalau ngeroko jangan di sini, dong! Asapnya ke sini semua!" 3 orang laki-laki pengecut itu tidak bisa menjawab, hanya menatap balik dan tetap melakukan aktifitas menjijikkannya. Dan karena tatapanku tak juga kupalingkan dari asap dan rokoknya, akhirnya dia seperti maling ketangkap, mulai menyemburkan asapnya agak ke atas meskipun masih mengenai bagian atas udara jatahku.

Dari cerita ini, aku hanya mau menggarisbawahi soal TOLERANSI. Ini tempat umum, udara dihirup oleh banyak orang, dan peraturan pemerintah tentang area terbatas merokok pun sudah keluar. Mengapa menuntut hak udara untuk setiap orang saja masih digunjingkan? Di mana otak mereka itu diletakkan kalau melanggar hak orang lain bukan menjadi sesuatu yang memalukan lagi?

Beberapa kemungkinan faktor-faktor yang memperbesar pelanggaran hak asasi ini:
~ peraturan yang kurang keras terutama mengenai sanksi hukum untuk pelanggaran yang dilakukan
~ moral yang rendah akan kesadaran KEBERADAAN orang lain
~ egois artinya orang lain atau umum harus memberikan kebebasan pelaksanaan kesenangan pribadi sementara kebebasan orang lain atau umum diabaikan
~ ketakutan orang yang dilanggar haknya untuk menuntut hak itu --> efeknya, ketika ada orang yang berani menuntut haknya, hal itu malah dianggap tidak normal

Jadi, kapan kita bisa hidup tenteram dengan mendapatkan hak-hak kita di negeri kita sendiri?


written @ jember, 28 Nov 2010, 06.20 p.m.

Comments

  1. susah. Indonesia ini negara ke4 tingkat pengonsumsi rokok terbesar.
    klo di public transportation gt ya bnran susah drpd smoking area mall, punyanya org2 merakyat semuaaa...

    ReplyDelete
  2. "drpd smoking area mall, punyanya org2 merakyat semuaaa... "
    maksudnya apa, bung?

    ReplyDelete

Post a Comment

Please enter ur comment here...-.~