Rinjani Trip - part 2


Tuesday, 30 August 2011
Pagi kedua, kami bangun tak terlalu pagi memang, tapi paling tidak ada yang bangun lebih siang daripada kami: Jay & Victor, hahahhaa..
Pos 3 Sembalun difoto dari awal 7 Bukit Penyiksaan
Aktifitas pagi dimulai dengan keluar dari sleeping bag dengan malas, menyalakan kompor, lalu menuang sedikit air untuk masak kopi dan makan pagi. Kami di pos 3 makan mie-kornet-telur, sedikit nasi pemberian dari kelompok Pak Handoko, dan minum kopi. Angin yang menderu keras dari atas gunung membuat makan pagi kami bertambah vitamin A & D: abu-debu. Apapun itu, kami kenyang sekarang, sehingga kira-kira kuat untuk perjalanan sampai target hari ini: Plawangan Sembalun. Rupanya sebagian barang dari kelompok lain terpencar ke sini sehingga beban itu harus dibagi-bagi di carier Ade, Doni, dan Oia. Mas Panji, Pak Handoko, Pak William, dan Pak Hendra berangkat lebih dulu, pukul 08.45, disusul porter dan Romo Yitno. Kloter berikutnya berangkat dan menyisakan Ade – Donny yang harus menunggu kelompok yang berangkat dari pos 3 bayangan untuk menyerahkan 2 karung yang dibawa porter. Sementara itu, pada 09.20 kelompok besar baru berangkat dari Pos 3 bayangan.
beberapa bagian awal bukit penyiksaan legam-terbakar 
Jalur kami kali ini melewati 7 bukit penyiksaan. Boleh dibayangkan jika teman-teman punya waktu luang :P Kami tidak memilih jalur penyesalan karena menurut keterangan pak William, jalur tersebut panjangnya 2 kali lebih jauh daripada 7bukit penyiksaan dan yang pasti, baru saja terbakar. Jalur penyesalan itu ternyata jalan setapak-bekas terbakar- arah ke bawah yang kami lihat sebelum pos 3 bayangan kemarin sore. Seperti nama jalurnya, jalur 7 bukit penyiksaan ini benar-benar penyiksaan rupanya. Jalannya naik terus, kiri adalah bekas sabana yang terbakar dan berwarna kuning meranggas, kanan jurang dengan sedikit rumput-rumput kuning. Melihat ke arah kiri di kejauhan membuat kami merasa terhibur, bukit-bukit hijau terlihat jauh di sana, telah kami lalui. Kadang angin yang berembus dari sana bisa melegakan juga, walaupun seharusnya secara teori, pada pagi-siang hari yang berhembus adalah angin dari puncak gunung ke lembah. Setelah melalui sekitar 4 bukit yang menipu (menipu, karena yang tampak dari kaki bukit pertama hanya puncak bukit tersebut, ternyata setelah sampai puncak bukit, masih ada bukit lagi di atasnya :P ), kami sampai di Pos Peristirahatan pada pukul 10.25. Banyak pendaki asing turun dan bertemu kami di sana, ada juga 2 pendaki dari Bandung yang bertemu kami. Di sana, semua kami sama, sama-sama kecapaian, hehe.. dan dehidrasi.
vegetasi rindang namun kemiringan brutal :)
Okay, istirahat cukup. 10.45 kami berangkat dari Pos Peristirahatan, bonus sedikit, lalu naik lagi. Kali ini kiri-kanan lebih bersahabat, rumput2 kuning dan beberapa pohon edelweys rendah, namun kemiringannya sekitar 50derajat. Di atas, nampak beberapa pohon rindang yang sepertinya sangat menggiurkan untuk istirahat. Air kami menipis. Tampak di depan tinggal 1 bukit, setelah itu lekukan Plawangan Sembalun, sepertinya, entah itu tipuan lagi atau bukan.
Sampai di rindang pohon-pohon itu, kami sempat hampir tertidur. Lagi-lagi bertemu dengan teman-teman dari Bandung. Mereka bergantian memanjat pohon pinus itu untuk mencari pose foto yang bagus, ada-ada saja :P Kami juga sempat ngobrol dengan beberapa porter dan porter gaul kami, lalu mengompas sebagian air minumnya, hehe.. Beberapa porter yang ngobrol dengan kami rupanya lebih memilih membawa bekal buah-buahah, seperti pisang dan nanas, daripada mie dan banyak air. Secara logika, mereka benar juga, karena dalam kondisi seperti ini, tubuh sebenarnya lebih membutuhkan vitamin C yang ada di dalam buah-buah itu untuk memperkuat daya tahan tubuh, daripada mie-yang tidak ada kegunaan selain karbohidrat- dan air.
di ring Segara Anak - latar: puncak yang berkabut 
Naik lagi, jalur kami lebih besar lagi kemiringannya-meskipun lebih banyak pohon dan lebih sedikit rumput kering-, hingga 60derajat, sehingga tenaga yang diperlukan lebih besar. Tentu saja lebih miring, karena di puncak nanti, kami sudah bisa melihat Danau Segara Anakan di sisi lain bukit ini.

Sedang terengah-engah mendaki kemiringan, 2orang
Jalur memutar bukir di tepian Segara Anak-berkabut di sisi  seberang
 porter kami berlari-lari turun. “Njemput mbak Shela sama mbak Yunita”, begitu kata mereka. Tak berapa lama mereka naik lagi, membawa tas. Loh, itu namanya bukan jemput, tapi bawain tas Shela dan Yunita aja, batinku. Pukul 3an sore waktu kami tiba di puncak bukit miring ini, meletakkan tas sambil melihat ke sisi lain di bawah yang merupakan Danau Segara Anak-ternyata sudah tertutup kabut- dan sisi depan arah perjalanan kami selanjutnya yang menampakkan puncak Gunung Rinjani. 5 menit kemudian, mas Fadly, salah satu dari porter kami yang turun tadi, sudah naik lagi sambil menarik Yunita di belakangnya. Oalahhh… ya benar kalau ini namanya njemput, hehe.. disusul Shela dengan pak porter yang lain. Kami juga bertemu dengan Brams dan Paul yang berjalan kea rah yang berlawanan dengan kami. Mereka sudah tiba di Plawangan Sembalun, sudah mendirikan tenda di sana, dan sekarang akan menjemput teman-teman yang masih di belakang, mungkin ada yang perlu bantuan naik atau bantuan membawa barang. Mulia sekali kalian, teman.. Two tumbs up!
tenda-tenda mencolok di Plawangan Sembalun menanti
Tenda-tenda berwarna mencolok sudah tampak di depan, menandakan tak jauh lagi target hari ini tercapai. Kami berjalan beriringan di tepian atas danau ini, sambil mengawal Yunita yang bermasalah dengan kaki akibat terjatuh 2 kali kemarin, sehingga sekarang kesulitan nekuk lututnya. Benar tak jauh, 15 menit kemudian kami sudah sampai di pondok hijau di balik rimbun beberapa pohon. Dari pondok itu, jika tak berkabut, danau di bawah bisa dilihat jelas. 10 menit dari pondok, kami tiba di area camping. Ada banyak tenda yang berdiri di sana. Rombongan kami membuka tenda di antara 2 karang batu sehingga terlindung dari angin yang datang dari danau maupun dari sisi bawah di balik danau. Menurut sharing dari kelompok David-Leo yang semalam sudah camping di sini, tenda mereka hampir terbang terangkut angin semalam karena mereka mendirikan tenda di area lapang yang tak terlindung karang besar ini. Maka, tenda kami dirikan di antara dua karang besar ini. Tapi ternyata tak semua tenda dari teman-teman rombongan kami muat masuk di celah itu, maklumlah, bulan-bulan ini banyak sekali wisatawan ke gunung ini. Jadi, terpaksa sebagian mendirikan tenda di area lapang tepi pohon yang mengarah ke puncak. Beberapa teman lalu membasuh muka di sumber air yang jernih, di sisi balik danau. Waktu menunjukkan pukul 15.25.
Sumber air di Plawangan Sembalun
Selesai mendirikan tenda, kami mulai membongkar barang-barang untuk kemudian memasak, kami belum makan siang ini. Tapi, ternyata proses membongkar barang tak semulus itu. Kami yang menitipkan barang kepada porter mengambil barang pada mereka dan terkejut campur marah, karena ternyata beberapa barang yang dimasukkan ke dalam karung putih itu bertuliskan nama-nama orang yang tidak ikut menyewa porter, bahkan ada nama yang dituliskan di karung-sementara namaku-yang malah seharusnya tertulis di situ- tidak ada. Ini bukan lagi masalah Bantu menbantu, ini masalah adil-tak adil. Mengapa? Karena beberapa barang teman-teman yang sudah menyewa porter dan seharusnya dibawa oleh pak porter jadi tak muat terbawa-dan jadi membebani teman-teman dalam kelompok penyewa porter- karena adanya barang-barang titipan dari orang-orang tak bertanggung jawab itu. Tolong lah.. sudah sama-sama besar, mbok ya yang fair, ga pake merugikan orang lain kenapa?? Pak porter jadi ikut bingung karena dia juga tak tahu siapa saja yang sewa dan siapa yang tidak. Tapi kasihan kan, kalau porter pribadi dijadikan porter umum? Padahal perjalanan kali ini, sesuai kesepakatan bersama, kami tidak menyewa porter umum. Jadi, dalam hal ini ada 2 pihak yang dirugikan: pihak teman-teman yang secara resmi menyewa porter dan pihak para porter. Next time, tolong yang merasa ga kuat bawa barang banyak, ya sewa porter dong! Atau kalau ga mau, ya jangan bawa barang banyak-banyak, sehingga tak perlu merugikan orang-orang lain dalam rombongan! L
Sunset di Plawangan Sembalun
Untungnya, senja itu mentari sangat memukau dengan peragaannya menjelang tenggelam. Warna jingganya memecah langit biru di belakang lereng lain dari danau di depan kami. Kami membuat kopi di atas batu besar tepat di lereng danau, lalu menyeruputnya bersama beberapa teman dari rombongan kami maupun dari rombongan bule-bule yang nongkrong di situ juga. Then we can sing a song inside our heart: How great is Thou art!
Makan malam kami santap sekitar pukul 8 malam. Dingin campur deru angin membuat kami segera merenggut sleeping bag masing-masing, sekaligus menghemat energi untuk summit hit pukul 1 dini hari nanti. Sayang, tenaga kelompok Diaz-Shela-Yunita terkuras cukup banyak karena mereka baru tidur sekitar pukul 11 malam.

Wednesday, 31 August 2011

Pukul 1 dini hari kami dibangunkan. Setengah nyawa, kami menyiapkan senter, jacket tebal, air dan snack untuk bekal perjalanan, dan slayer untuk perjalanan ke puncak. Kompor dinyalakan sebentar untuk memasak sedikit kopi demi menghangatkan perut. Sepatu dan semua barang dimasukkan ke dalam tenda, kemudian ditutup rapat karena di sini banyak monyet yang terkenal nakal dan suka mencuri barang-barang.
02.00 berangkat muncak dari Plawangan Sembalun setelah sedikit briefing mengatur formasi jalan rombongan dan doa bersama. 2 orang tinggal di tenda, tak ikut ke puncak: Pak William-karena sudah sering ke Rinjani- dan Shela.
Perjalanan awal disambut dengan batu-pasir dan jurang di kiri. Dingin yang menusuk dini hari itu bukan karena embun atau kabut tapi karena angin yang bertiup dari jurang di kiri –kanan jalan yang kami lalui. Jadi, property wajib pakai di perjalanan kali ini adalah jacket dan syal/slayer penutup leher dan telinga.
Pagar besi yang tak lagi cukup kuat
Beberapa bagian sangat menanjak sehingga 3 – 4 potong pagar besi dipasang di tepinya. Kita bisa berpegangan di sana, tapi jangan letakkan 100% nyawa kita di sana karena.. ada beberapa pagar yang tak terlalu kokoh pondasi cakar ayamnya J Mungkin kalau Anda termasuk orang yang tak begitu bagus dalam mountainaring seperti saya, begini prosentase mempercayakan nyawa Anda: 30% pada pagar besi, 30% pada teman, dan 40% pada diri Anda sendiri (bisa dengan menancapkan ujung sepatu dalam-dalam di tanah, bisa mencari pegangan batu stabil atau ranting cukup kuat dengan tangan yang tak berpegang pada pagar besi), hehe… Maka, susunan barisan saat itu, berselang-seling cowok-cewek.
Jalur datar yang tak cukup lebar
Beberapa bagian yang lain cukup datar, namun tak cukup lebar untuk menampung formasi jalan dalam 2 jalur, harus tetap berjalan 1 jalur, apalagi dini hari begini masih gelap dan kami tak tau sedalam apa jurang di kiri-kanan. Biasanya kami berhenti di bagian bonus ini, tapi tak boleh lama-lama karena kedinginan bisa membuat kami drop untuk melanjutkan perjalanan.
Pemandangan tak terlalu jelas, hanya terlihat puncak yang Nampak dekat, namun tak juga tercapai.. Perdu-perdu rendah di kiri kanan ternyata adalah edelweys, yang beberapa kuntum bunganya berguuguran tersambar kaki-kaki yang lewat. Ada banyak pohon edelweys di sepanjang jalan ini. Ada juga beberapa bongkah batu gunung stabil yang menutup jalan, membentuk jalur kecil di tengahnya, dan menyediakan tempat persembunyian sempurna untuk mereka yang ingin meletakkan punggung atau bahkan tidur barang sejenak (lama juga tak apa, sih :P ).
Pukul 4.30 sudah membawa sang pemilik hari ke sisi timur, mengintip lembut dengan sinar kemerahannya yang tertutup kabut. Belum seorang pun dari rombongan kami yang mencapai puncak, jadi, summit attack lewat sudah.. Harapan kami mendadak surut.
Batu besar
5.00 sebuah batu yang merupakan kumpulan kerakal, seperti batu-batu lain sepanjang jalan ini, teronggok manis di kanan jalan, menggoda sekali sebagai tempat perlindungan dari dinginnya angin yang kencang menerpa. Kami memutuskan beristirahat sejenak di sana, berbagi roti gandum, keju, biscuit, dan makanan kecil lain bersama beberapa teman dan mas porter Fadly. Perut sudah menuntut diisi, kami kelaparan rupanya. Dony bertransaksi dengan mas Fadly di sini: slayer hitam untuk kupluk hijau, deal. Yunita, yang sudah ngantuk dan sejak tadi naik dengan ditarik oleh Dony, tampaknya memutuskan untuk mengakhiri di sini, begitu juga dengan Hepi dan Oia. Belakangan, Ade juga, hahahaha…
Kami yang melanjutkan menyemangati diri sendiri dengan pemandangan warna stabilo orange di depan rombongan: mbak Rika. “Lihat ya, mbak Rika aja yang paling depan dari rombongan kita masih di situ”, kata seorang teman, entah dengan maksud memberi semangat atau menghibur prestasi jalan kami yang super lemot :D
Jalan menuju puncak berupa hamparan batu labil
Benar, jalan kami sangat lambat. Kemiringan memang tak setajam kemiringan lautan pasir dalam perjalanan ke puncak Semeru dari Kelik -yang mencapai 60 derajat- , kemiringan kali ini hanya sekitar 45 derajat. Yang membuat lambat ini tak teratasi, atau hamper tak teratasi, adalah medan yang berupa hamparan batu labil seluruhnya, yang bisa merosot kapan saja, panjang tak terkira, dan capai mendesak ke dalam dengan sepatu untuk membuat pijakan. Tetap saja kiri kanan kami jurang, karena perjalanan kami dari dini hari tadi sebenarnya adalah perjalanan melalui tepi cincin yang mengelilingi Danau Segara Anak. Dalam keadaan ini, naik saja susah, jadi jangan memikirkan banyak hal, apalagi memikirkan cara turun, dijamin Anda akan makin pusing dan bisa-bisa berhenti di tengah jalan. Lupakan lapar, lupakan sakit kaki, lupakan rasa capek, bahkan.. lupakan beban bahwa Anda harus mencapai puncak, dan fokuslah pada masa sekarang-pada ‘menjalani dengan hati’, kata pepatah jawa: alon waton kelakon, mungkin benar juga di saat sekarang.
Akhirnya pukul 08.30 sampai di Puncak Rinjani. Senang, haru, capek, dan kagum pada indahnya RInjani! wuahh… 15 menit sebelum puncak, dengan ketinggian yang hanya berbeda 1 meter, gundukan tanah dengan bongkah batu besar meneduhi jalannya menyambut kami, seperti pendopo ruang utama yang merupakan puncak itu sendiri. Puncak sendiri tak luas. Tak bisa menampung banyak orang di sana, maksimal 30orang. Maka kami bergantian. Gunung Baru Jari, anak Gunung RInjani yang tumbuh di dalam Segara Anak, Nampak jelas dari sini. Pastinya sesi pemotretan tak ketinggalan. Makanan yang kali ini diedarkan: coklat, dengan berbagai merk. Ini perayaan, teman, pesta!
09.15 kami turun dari Puncak Rinjani, tak boleh lebih siang lagi karena seentar lagi kabut pasti mencapai puncak. Perjalanan turun ternyata tak sesulit perjalanan turun. Kami tinggal meletakkan pangkal telapak kaki di bebatuan, tarik bagian atas tubuh ke arah belakang, dan gaya gravitasi akan membawa kam turun beberapa centimeter, kalau beruntung bisa sampai 1 meter. Sangat efisien dan efektif: hemat tenaga, hemat waktu, hemat pikiran, tapi menghasilkan sangat banyak debu di belakang kami.
Pukul 12.00 kami baru sampai kembali di Plawangan Sembalun. Ski pasir dan kerakal memang menyenangkan, tapi jarak tempuh kami ternyata memang tak main-main: hampir 3kali jarak Kalimati-Puncak Mahameru. Pantas kami langsung ingin tidur, di samping kantuk karena tidur kurang (hanya dari pukul 20.00an sampai pukul 01.00) juga karena belum makan nasi sampai sesiang ini (maklumlah, perut orang Indonesia tak mau dan tak mampu menggantikan posisi nasi dengan makanan lainnya). Jadilah kami tidur, meskipun terik membakar tenda kami, dan perut masih keroncongan. Bangun tidur sekitar pukul 13, kami masak mie dan segera berkemas. Pukul 15 kami sudah harus meninggalkan Plawangan Sembalun menuju ke Danau Segara Anak supaya tak kemalaman. Lewat jalan di depan pondok di cincin yang mengelilingi Danau Segara Anak, tapi kali ini, lewat belakang bkit lalu mengambil tikungan yang mengarah turun. Perjalanan turun ini ternyata tak semulus yang kami bayangkan. Sepanjang jalan berupa susunan batu-batuan yang cukup terjal, sehingga akan sangat bermasalah bagi Anda yang cedera lutut.
Jalur turun ke danau: berbatu-batu
Akhirnya, setelah melalui beribu susunan batu, pukul 17.30 –yang masih sangat terang di sini- kami sampai di pertigaan, di mana Doni bicara via HT dengan Rm. Sabas & mas Fadli-porter- untuk menanyakan jalur berikutnya, karena ada satu jalan mengarah naik lewat bukit sedangkan jalan yang lain melewati belakang pohon tempat Doni berbicara dan mengarah ke bawah. Para porter sudah jauh di depan sedangkan Romo Sabas masih di belakang, membarengi Dame yang cedera lutut :P Jawaban ang diperoleh, kami harus melalui jalan naik karena setelah bukit, kami bakal turun langsung menuju ke danau.
Oke. Perjalanan dilanjutkan. Kami mendaki satu bukit. Mulai gelap, maka senter disiapkan, dan jacket dikenakan. Ternyata masih naik satu bukit lagi, lalu lewat batu-batu, dan turun lewat jalanan berrumput. Hmmm… asyik banget buat seluncuran, hehe.. sayangnya, teman-teman yang sudah melewati padang rumput dan sampai di bawah berteriak, “Ngga ada jalur!” Lohhh?? Kontan kami berhenti. Jalan sudah gelap waktu itu, senter kami sudah menyala dan berharap jalanan tinggal turun langsung sampai danau. But, this is not over yet. Bahh…
Dony dan Albert di belakang buru-buru menghubungi via HT lagi. Bang Indro dan 2 teman dari rombongan Bandung: Juan & Tri yang berada di depan berusaha mencari-cari jalur tembusan. Akhirnya Dony ikut turun, memastikan jalur, lalu menghubungi via HT lagi, dan akhirnya memutuskan bahwa kami harus kembali naik karena ternyata jalur seluncuran kami ini totally wrong. Yang menyebalkan adalah, ada yang nyeletuk bertanya-tanya siapa yang di depan, seakan-akan merekalah kambing hitamnya, padahal yang nyeletuk itu tahu jalan yang benar. Ealahh, mbok ya kalau tau salah jalan, bilang dari tadi lah, ga perlu menyalahkan yang di depan karena yang di depan memang belum pernah ke Rinjani-wajar salah.
Jadi, pukul 18.30 waktu itu, kami kembali naik… yah, ditahan dulu capai dan kantuknya, dan harus awas memasang mata karena jalur balik kami menanjak melewati batu-batu terjal. Berjalan datar juga lewat tepian jurang di kanan, sehingga kami harus berulang kali berteriak kepada teman di belakang: rapat kiri, atau, awas lubang, atau, lewat jembatan kecil, atau, awas akar pohon. Hahaha… perjalanan ini membuat kami semakin rapat dalam barisan. Romo Sabas dan Dame pun akhirnya sudah tak begitu jauh lagi dari barisan. Hampir dua jam berlalu, angin dingin menderu, dan kami belum juga sampai di danau. Rasa kantuk semakin merasuk dan jalan kami mulai miring-miring, untung kali ini medannya berupa pepohonan dan rumput-rumput, bukan jurang di kanan lagi. Dari depan, tampak mas Fadly – porter- dan seorang porter lagi menyusul kami, membawakan barang beberapa teman yang tak kuat. Tak lama kemudian, Brams dan Dony lewat mendahului, menyusul bang porter, dengan 2 dan 3 tas di punggung. Seharusnya, perjalanan tak jauh lagi, batin kami menghibur diri. Dan benar, setengah jam kemudian kami melihat rambu Camping Ground. Kami maju sedikit lagi karena di sini sudah berdiri beberapa tenda. Gelap dan dingin waktu itu, kami hanya ingat mendirikan tenda, menghangatkan badan, dan tidur. Waktu menunjukkan pukul 20.15. Kata Romo, ini adalah tepian Segara Anak. Really? Mana, mana? Nggak kelihatan tuh… tapi sudahlah, tak penting, yang penting sekarang tenda harus berdiri untuk masak dan tidur. Hmmm…. 

Comments

  1. "Yang menyebalkan adalah, ada yang nyeletuk bertanya-tanya siapa yang di depan, seakan-akan merekalah kambing hitamnya, padahal yang nyeletuk itu tahu jalan yang benar. Ealahh, mbok ya kalau tau salah jalan, bilang dari tadi lah, ga perlu menyalahkan yang di depan karena yang di depan memang belum pernah ke Rinjani-wajar salah...." (Wakakkakkkk.... aku tahu siapa dia? dia khan idolamu jeng...) # wushh... lari secepat kilat ^^

    ReplyDelete
  2. wooo, aku lho cm mengutip kata2mu, jeng.. idolamu, soulmate malah mgk, wkkkkkk....
    sebenernya q g ngurus, sih, cuma empati sama dirimyu.. :P

    ReplyDelete
  3. kok...pada sensi sih... nmpknya lg sm-2 infill nich...

    ReplyDelete
  4. infill? what does it means? :P
    btw, sapa ni? would u plz write down ur name, guys? thx ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Please enter ur comment here...-.~